Tuesday, December 12, 2006

Andra & The Backbone

"Sakit hatiku…remuk jantungku… 'tuk membencimu…musnahkan cintaku"

Lirik diatas merupakan rintihan sekaligus raungan keras dari laki-laki yang kecewa terhadap bekas pacarnya. Lagu mellow baru? Album pop-mellow segar? Band pop-rock baru yang bermain dikunci yang itu-itu saja?
AWAS! Ini Andra & The Backbone yang menjadi pelepas dahaga dengan album perdana yang penuh dengan track-track up-tempo membius jiwa!

Sebenarnya ini merupakan proyek solo yang sudah start sejak lama tapi baru intensif digodok rekaman selama bulan Juni hingga Desember ini. Andra yang menjadi salah satu pentolan Dewa, pada akhirnya melepaskan daya rock prima dengan Andra & The Backbone ini!

Untungnya jadwal Dewa ditahun ini menjadi longgar, kalau tidak Andra & The Backbone tak akan hadir memperkaya dunia musik negeri ini. "Musiknya tak serumit Dewa. Rock-nya lebih pop banget, tapi unsur gitarnya lebih banyak, distorsi gitar lebih banyak dari Dewa," kata Andra. Jadi gitar yang lebih menonjol. "Jalur kita memang pop-rock, mengenai baru atau tidaknya corak musik band ini, kita kembaliin ke mereka yang dengerin," tambahnya.

Formatnya sendiri mengambil tiga pentolan utama. "Waktu itu belum kebayang nentuin formatnya. Lalu aku ketemu Stevie Item dan Dedy. Stevie Item sendiri additional player di Dewa, sudah lama kenal. Sebelumnya sudah sering jam session bareng gue," kata Andra. Sedang Dedy baru masuk setelah proses pencarian vokalis. Dedy sendiri saat itu nggak langsung didapuk menjadi vokalis. Butuh dua minggu untuk Andra mendapuk Dedy sebagai vokalis. "Andra dan gue ketemu, ngobrol bentar, dan masuk studio untuk bikin demo-demo. Awalnya memang baru ngisi-ngisi demo aja. Jadi gue nggak punya pikiran 'oh gue bakal jadi vokalis' karena gue memang suka bantuin temen-temen gue untuk bikin demo," kata cowok yang belakangan dengerin Led Zeppelin dan Deep Purple lagi demi proyek band ini. Switchfoot, Radiohead, Incubus juga menjadi band-band yang mampir ke telinga Dedy. Posisi lain? "Untuk drum, sebenarnya aku sudah suka dengan permainan satu orang ini tapi sayangnya dia sudah ada band. Jadi mau nggak mau mesti pakai additional drummer," jelas Andra.

Ramuan musik Andra & The Backbone sendiri begitu catchy tapi unik. Keras tapi renyah. Ini tentunya berkat banyak influence. "Latar belakang musik kita beda-beda. Kayak Stevie nih metal banget. Jimmy Eat World, Foo Fighters jadi musik yang kita dengerin. Campur. Maunya pop-rock tapi waktu awal proses rekaman kita bikin lagu kenceng-kenceng. Eh, kesininya kita malah bikin yang rada akustik kayak Simon & Garfunkel. Kita jadi heran. Intinya, ada lagu yang begitu (akustik) dan ada juga yang kenceng-kenceng. Jadi kita free, ngalir aja…” ujar Andra.

Untuk album ini total ada sepuluh lebih lagu. Ada satu lagu instrumen yang diselipkan, jatuhnya lebih ke track balada. Porsinya sendiri lebih banyak track-track up-tempo. Akustiknya dua lagu saja. Single pertama tetap yang up-tempo. "Semua track di album ini memang menantang kita bertiga, karna waktu aku ketemu Dedy, kita masih meraba (musiknya), cari nada dasarnya (suara) Dedy direkam dalam empat lagu, ternyata kerendahan buat dia, akhirnya diulang lagi – dinaikkin nada dasarnya, baru ketemu, oh ternyata suaranya dia disini," cerita Andra. Prosesnya cukup lama juga karna kita ketemunya nggak seperti yang 'yuk, latihan nge-jam', jadi kita begitu ketemu langsung 'ayo take'. Untuk vokal, lagu-lagu yang slow/akustik adalah yang susah dimainkan. "Secara musikal, track akustik lebih detil, apalagi gitar. Kalau lagu up-tempo yang memakai gitar elektrik dengan distorsi banyak kan gampang saat di-edit. Akustik lebih susah karna mesti dapat soulnya," jelas Stevie yang kagum dengan permainan Jimi Hendrix ini.

Kelar masalah permainan yang mesti mendapat soul, proses penciptaan lagu ternyata cukup sulit juga. Andra cukup merasakan proses yang lama. "Saya baru bisa bikin lirik di Dewa pun pas album terakhir Dewa, track Selimut Hati. Sebelumnya susah. Biasanya bikin musiknya saja, sedang liriknya Dhani (Dewa). Yang bikin album ini lama selesai karna belum selesainya lirik-lirik lagu. Nggak pede. Tapi semuanya keluar mengalir dengan lancar. Untuk tema, ada beberapa curhatan orang yang dibikin jadi lagu. Lalu ada lirik yang nongol setelah nonton sebuah film," kata cowok berambut pendek ini.

Gebrakan mereka pertama digeber dalam single "Musnah". Ini single yang bercerita tentang putusnya cinta yang lalu berubah menjadi rasa benci. "Tapi kita tetap tekanin ke musiknya, musiknya yang awalnya datar, trus pas di-reff kencang dengan distorsi," kata Andra. "Musnah" sendiri menjadi track kunci yang menggambarkan karakter musik yang dianut Andra & The Backbone.

Untuk lagu favorit, "Musnah" menjadi pilihan Stevie. Selain single andalan tersebut, "Terdalam" adalah lagu up-tempo yang paling berkesan bagi cowok berambut lurus ini. "Karna paling susah mainin itu lagu!" kata cowok yang sudah belajar gitar sejak SD kelas satu. Sedang lagu yang paling enjoy dimainkannya adalah ‘Lagi dan Lagi’. Lain hal dengan Dedy, ia menyukai "Hanya Dirimu" yang up-tempo. "Lagu-lagu up-tempo dialbum ini sangat menantang. Disini gue mesti menjaga kualitas suara dan mesti jaga tempo sekaligus penjiwaannya," kata cowok yang belakangan ini mengurangi makanan yang berminyak, menghindari soda dan lebih sering minum air putih.

Kenapa harus band rock? Kenapa band ini dilahirkan? Hadirnya Andra & The Backbone jelas menambah warna dan meramaikan dunia musik negeri ini. "Band rock (keras) yang sekarang ini didengar banyak orang mungkin kurang, (musik) band-band yang ada sekarang lebih kearah mellow. Aku berusaha bikin rock yang nadanya pop banget, orang-orang bisa nyanyiin, meskipun musiknya kencang. Dan aku bikin banyak lagu yang nggak bisa dimasukkin ke Dewa, jadi daripada mubazir lebih baik dibawain di band ini," jelas Andra.

Keunikan grup ini secara keseluruhan tercermin dari title-nya "The Backbone". Well, ini memang proyek solo yang nggak mungkin bawa nama "Dewa". "Nama Backbone diambil karna aku ada masalah dengan tulang punggung. Aku sering diolok oleh personil Dewa yang lain, Awas, punggungnya. Awas, pengapuran. Jadi dipikir-pikir seru juga nih The Backbone dan artinya sendiri cukup bagus, orang nggak bisa tegak tanpa ada tulang belakang. Keren lah!" jelas Andra yang berharap musik Andra & The Backbone bisa diterima diberbagai macam segmen pasar.

Tuesday, December 05, 2006

My Chemical Romance (Black Parade, 2006)

Sebenarnya, merunut sejarah band bernama MY CHEMICAL ROMANCE [atau bisa juga disebut My Chem atau MCR] berarti kita bicara pengalaman pahit yang dilihat langsung oleh vokalisnya, Gerrard Way.
Gerrard adalah salah satu saksi hidup ketika teroris meruntuhkan World Trade Center, 11 September 2001 silam. Rasa marah, kesal, gelisah, sedih dan resahnya kemudian dituangkan dalam lagu berjudul Skylines and Turntiles.
Lagu itu juga menjadi semacam opening band yang akhirnya dibentuk oleh Gerrard Way bareng Matt ‘Otter’ Pellisier [drummer pertama yang sudah cabut].

Nama band sendiri diusulkan oleh basis Mike Way ketika membaca buku berjudul Ectassy: Three Tales of Chemical Romance, tulisan Irvine Welsh. Kini band yang diawaki juga oleh Bob Byar [drum], Frank Lero [rhythm gitar], Ray Toro [lead gitar] menjelma menjadi salah satu band papan atas di ranah rock. Mereka terbentuk September tahun 2001 di New Jersey.

MCR “nyaris” identik dengan musik yang berhubungan dengan kematian, horror dan kegelapan. Sebuah pilihan yang dari awal memang sudah mereka tonjolkan. Imej inilah yang MCR bentuk dari awal berdirinya, meski kemudian banyak kritikus musik ya menggolongkan mereka secara perlahan-lahan masuk dalam ranah emo. Tudingan sebagai “anak-anak emo” ini pernah secara kasar dilontarkan oleh band Inggris Kasabian yang menyebut MCR dengan “clowns” atau “emo kids”. Entah mengapa, Kasabian menyebut MCR sebagai satu band yang tidak punya sesuatu yang positif untuk dikatakan. Alamak, segitunya….

MCR juga pernah membatalkan beberapa konser lantaran ketika sedang menggarap video klip ‘Welcome to The Black Parade’ dan ‘Famous Last Words’ [bakal jadi single ke-2] yang digarap oleh Sam Bayer [pernah menggarap klip sukses Nirvana ‘Smells Like Teen Spirit’ dan American Idiot-nya Green Day]. Gara-garanya adalah Gerard Way cedera engkel sementara Bob Byar harus dirawat di rumah sakit karena infeksi. Untung saja dua kip yang sedang digarap sudah selesai.

MCR juga memilih menjadi band dengan basis massa ‘bawah tanah’ atau kelompok akar rumput [grassroots]. Mereka punya fans yang siap “mencaci-maki” habis-habisan dalam forum yang mereka bikin, termasuk di situs resmi mereka. Sisi positifnya adalah, MCR menolak segala atribut yang biasanya dilekatkan pada band, seperti ‘sex icon’ dan sebagainya. Fans membuat mereka menjadi “diri mereka sendiri”.

Album ketiga [yang major label] mereka The Black Parade menempatkan mereka pada tataran papan atas band pengusung alternative rock. Banyak kritikus yang menempatkan album ini sebagai ‘album paling ditunggu’ 2006. Single ‘Welcome to The Black Parade’ menjadi anthem yang wajib diputar [dan dinyanyikan]. Keberanian mempertahankan ciri “gelapnya” menjadikan My Chemical Romance sebagai ‘most wanted band’ terkini.

[joko.moer//rileks.com]

Tracklisting:
1. The End
2. Dead!
3. This Is How I Disappear
4. The Sharpest Lives
5. Welcome To The Black Parade
6. I Don't Love You
7. House Of Wolves
8. Cancer
9. Mama
10. Sleep
11. Teenagers
12. Disenchanted
13. Famous Last Words

Monday, November 27, 2006

Erwin Gutawa In Rockestra

Keinginan Erwin Gutawa untuk mendokumentasikan perjalanan musik rock (di) Indonesia) mulai dekade 70-an hingga sekarang ini patut diacung jempol. Dia memilih lagu-lagu yang pernah menjadi hits pada eranya dari beberapa grup rock yang pernah ada di negeri ini.

Sudah barang tentu, tidak semua lagu-lagu rock itu lantas dikemas dalam album bertajuk "Rockestra" ini. Jalan satu-satunya mungkin adalah dengan melakukan "random sampling". Terutama di era 70-an , memang sangat sulit untuk menemukan lagu-lagu yang murni berkarakter rock dari grup-grup rock yang jumlahnya lumayan bak jamur dimusim hujan. Sulitnya.....karena 80 persen grup-grup rock saat itu lebih cenderung tampil sebagai "copycat" atau "impersonator" dari grup-grup rock mancanegara. Kreativitas bikin lagu rock sendiri jadi terabaikan. Pun ketika grup-grup rock tersebut, semisal Freedom of Rhapsodia, AKA, SAS, Trenchem, Golden Wing, dan lain-lain,masuk ke bilik rekaman, mereka didikte oleh para cukong rekaman untuk menyelipkan lagu "jualan". Nah lagu "jualan" ini sudah pasti berkonotasi pada lagu pop "cengeng". AKA yang beringas di panggung terpakasa harus membuat lagu "Badai Bulan Desember", atau Freedom Of Rhapsodia (ini rock band-nya Deddy Dorres di Bandung) akhirnya melejitkan hit "Hilangnya Seorang Gadis" (karya Sarwono).

Disayangkan lagi di album "Rockestra" ini beberapa karya yang betul-betul rock milik SAS (katakanlah misalnya "Larantuka" atau "Sansekerta) tidak ikut dimasukkan dalam tracklist. Juga Giant Step, Golden Wing, Slank, Edane dan beberapa grup lain seperti Rasela, C'Blues. Padahal 2 grup rock 70-an itu punya hits nasional yaitu "Ikhlas" (C'Blues) atau "Kupergi Bersama Lagu" (Rasela). Bahkan "Ikuti"nya Edane tak terjamah sama sekali.
Mungkin ini adalah ekspektasi yang berlebihan, siapa tahu Erwin telah menyiapkan lagu-lagu rock Indonesia tersebut untuk proyek Rockestra yang selanjutnya.

Toh,arransemen yang dibuat Erwin Gutawa memang megah dan grand. Tapi belum menyentuh karakter rock yang sebetulnya. Simak lagu Harry Roesli "Malaria" yang sebetulnya merupakan metafora protes sosial ketika dibawakan Kikan Cokelat jadi seonggok lagu pop balada yang gak puguh. Sayang banget. Padahal dari departemen lirik saja, lagu yang dirilis Harry Roesli pada album "Philosophy Gang" itu sudah berkesan anti-established dan mbalelo. Simak saja petikan liriknya :

Lanjutkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk malaria.......


Beberapa track yang agak lumayan adalah "Kemarau" (Oetje F Tekol) yang dipopulerkan New Rollies pada tahun 1979 terdengar lebih tebal dan ngerock oleh Armand Maulana. Juga duet yang unik antara Andy /rif dan Roy Jeconiah Boomerang pada lagu "Kehidupan" (Jockie Soerjoprajogo) yang dipopulerkan God Bless. Juga interpretasi yang pas oleh pendatang baru Ryo Damara pada lagu "Hilangnya Seorang Gadis". Atau Yopie Mata yang menyanyikan "Rock Bergema" (Roxx).

Catatan lain,penyanyi yang tampil kayaknya berkisar dari itu ke itu saja. Kurang variatif (mungkin karena izin dari pihak label diluar Sony BMG ?).
Namun toh dengan munculnya Achmad Albar dan Nicky Astria di album ini, membuat album "Rockestra" ini juga menyimpan nilai nostalgia.

Dan yang bikin gemes adalah "Overture" yang merupakan potporry sederet hits God Bless. Rasanya inilah track yang paling mewakili idiom "Rockestra" yang sesungguhnya. Dan London Symphony Orchestra melakukan tugasnya dengan baik.

TRACKLIST
1.OVERTURE (GODBLESS MEDLEY)
2.KEHIDUPAN
3.HILANGNYA SEORANG GADIS
4.ROCK BERGEMA
5.MALARIA
6.PERANG DENGAN HATI
7.JENUH
8.KASIH TAK SAMPAI
9.KUINGIN
10.SESAL
11.KEMARAU
12.JANGAN ADA ANGKARA
13.BENDERA


:: by: denny sakri ::


Monday, October 02, 2006

UNGU: Album 'SurgaMu'

Bagi Ungu, musik religi adalah sebuah pengabdian yang total sebagai hamba Tuhan. Walau menghadapi tantangannya dalam penulisan, demi membuat lirik yang menyentuh rasa Ketuhanan banyak orang, akhirnya grup ini berhasil menelurkan sebuah album mini.

Sejatinya musik religi Ungu ini merupakan bagian dari ibadah dan pengabdiannya pada Tuhan. Lirik-liriknya ditulis lebih jujur dan lebih natural. Dengan mengubah lirik cinta universal antar manusia menjadi syair cinta pada kebesaran Tuhan, Ungu mempersembahkan SURGAMU.

Dalam mini album religi ini, Ungu lebih menekankan interprestasi lagu pada kekuatan aransemen. Dan ini terlihat dalam SurgaMu yang teradapat unsur orkestra dengan koor anak-anak dan kalimat yang diulang-ulang: Allahu Akbar Allahu Akbar. Dengan string section gabungan dari orkestra akustik dan string keyboard. Enda memasukkan petikan gitar elektrik dan diiringi koor 8 anak dari Bina Vokalia Pranajaya, dan membuat kesan megah dalam lagunya.

Di lagu Doa yang ditulis Enda, nyaris terdengar layaknya musik pop Ungu, lengkap dengan petikkan gitar Enda dan Oncy yang berdistorsi tipis didalamnya. Bedanya terletak pada beberapa baris syair, satu diantaranya kata Ridho satu kosa kata yang biasa dipakai pada syair lagu Islami.

Di lagu Selamat Lebaran, ciptaan Pasha terbaca sangat universal walau terdengar agak pasaran tetapi merefleksikan kenikmatan lebaran pada suasana "hari kemenangan" di kampung halaman. Dan di lagu Andai Kutahu, Pasha mendapatkan ilham istimewa meski basic liriknya merupakan permainan logika manusia. Setiap manusia harus tahu bahwa Tuhan menciptakan isi dunia dengan penuh warna. Karena itulah, pada lagu ini bisa dijumpai bahasa musik universal.

Dan untuk melengkapi mini album religi ini, dipilih lagu no name Shalawat yang dimainkan dalam tempo lebih lambat, meski tetap mengandalkan peralatan musik lengkap, dari permai'an drum Rowman, 'duet gitar' elektrik Arlonsy Miraldi (Oncy) dan Enda, serta vocal Pasha.

Andai Ku Tahu

andai ku tahu kapan tiba ajalku
ku akan memohon , "TUHAN tolong panjangkan umurku"
andai ku tahu kapan tiba masaku
ku akan memohon, "TUHAN jangan KAU ambil nyawaku"

aku takut akan semua dosa-dosaku
aku takut dosa yg terus membayangiku

andai ku tahu malaikatMU kan mejemputku
izinkan aku mengucap kata taubat padaMU

aku takut akan semua dosa-dosaku
aku takut dosa yg terus membayangiku
ampuni aku dari segala dosa-dosaku
ampuni aku, menangisku bertaubat padaMU

aku manusia yg takut neraka
namun aku juga tak pantas di surga


Lirik selengkapnya di SINI


Thursday, August 24, 2006

/Rif: Album Pil Malu

INILAH album /rif paling ditunggu setelah tiga tahun lebih absen menelurkan album. Sebuah album hasil eksplorasi mendalam atas skill masing-masing personil, maka tak heran jika pengerjaan album ini memakan waktu cukup lama. Eksplorasi tersebut bisa disimak dari sisi sound yang diusung mereka yang sarat akan bebunyian sequencer. Hal ini menegaskan kedewasaan /rif dan kematangannya dalam bermusik. Liriknya pun mengangkat sisi lain dari keindahan cinta dengan menyelipkan kritik sosial. Judul album kelima nya ini adalah Pil Malu, sebuah obat buat kamu yang nggak tahu malu!

/rif adalah salah satu band yang disegani di jagad rock tanah air. Memiliki personil Andy pada vokal, Jikun di gitar melodi, Maggi si jumawa penabuh drum dan Iwan pencabik senar bass serta Ovy di rhythm gitar yang masuk terakhir menggantikan posisi yang ditinggalkan Denny pada tahun 2003. Kilas balik awal terbentuknya /rif adalah ketika mereka dikenal di café-café seputaran Bandung pada tahun 1992. Waktu itu nama bandnya masih Badai Band hingga tahun 1995 mereka mengubahnya menjadi /rif. Di tahun 1997, /rif merilis debut albumnya yang melejitkan single Radja dan berhasil membukukan platinum untuk album ini.

Prestasi /rif pun berlanjut dan sudah tidak diragukan lagi baik di dalam maupun di luar negeri. Pangung demi panggung musik tanah air berhasil dijajaki, tak ayal /rif menjadi band langganan pensi-pensi sekolah. Itu baru yang dalam negeri, untuk yang skala internasional belum lama ini /rif diundang untuk ikut meramaikan sebuah festival tahunan bergengsi bertajuk “Fette de la Musique” di Paris, Prancis.

Album kelima yang bertajuk Pil Malu ini menampilkan 10 buah lagu yang kesemuanya masih dibesut dalam alunan rock. Tanpa banyak berbasa-basi, single unggulan album ini langsung menyajikan /rif yang lebih berenergi. Judulnya “So-Nya”, liriknya dikerjakan secara keroyokan oleh Andy, Jikun, Maggy dan Ovy dan bercerita tentang kritik terhadap seseorang yang disebut mereka sebagai ‘satria berambut palsu’. Cara penyampaiannya cukup berbeda, dengan bahasa slengean, ditambah dengan garapan musik rock yang terasa matang.

Di album ini /rif memang mengangkat isu-isu cinta yang bertema kritik sosial. Liriknya pun diangkat dari kisah sehari-hari dan kejadian yang masih hangat-hangatnya. Coba dengarkan saja “Batas”, lagu yang mengisyaratkan tentang kebebasan untuk berkreasi tak bisa dihalang-halangi. Lain lagi dengan lagu “Pil Malu” yang judulnya juga diangkat sebagai judul album ini. “Pil Malu” bercerita tentang pemilihan orang-orang tanpa rasa malu. Ini adalah cara /rif untuk mengekspresikan isi hatinya terhadap kejadian yang ada saat ini. “Idenya berawal dari rasa frustasi melihat keadaan Indonesia . Tapi karena kita ngeband yah kita hanya bisa menuangkannya ke dalam lagu-lagu bertema sosial,” papar Jikun.

Hadirnya Ovy sebagai gitaris punya makna tersendiri. Ovy yang punya pengalaman akademik di bidang musik dan pernah menghabiskan 3 tahun di London dan 2 tahun di Amerika untuk belajar gitar, berhasil beradaptasi dengan permainan dan musik /rif. Selain itu, Ovy pun menjadi player dan arranger untuk beberapa lagu di album ini. Kemampuan Ovy telah dijajal lewat album The Best Of (2003) dan semakin matang lewat ketrampilannya mengolah sequencer bersama Maggi. Salah satu lagu yang merupakan hasil asah terampil Ovy dan Maggi adalah “Pahit Getir”.

Simak juga lagu berjudul “Bilur”. Sebuah lagu yang ditulis oleh /rif yang terinspirasi dari musibah gempa bumi di Nangroe Aceh Darussalam tahun 2004. Lagu bernuansakan rock-techno ini sebelumnya pernah dimasukkan dalam album kompilasi Kita Untuk Mereka tahun 2005 dan kini lagu tersebut dihadirkan kembali dalam album kelima /rif untuk memberikan semangat bagi bangsa Indonesia.

/rif telah menunjukkan dirinya sebagai band yang tetap eksis di tanah air. Lagu-lagunya masih tetap menyuarakan jerit hati anak manusia. Lewat album ini pun refleksi emosional antar personil pun semakin erat. “Makna album ini buat kita adalah semakin terasanya hubungan anak-anak /rif semakin asyik. Segala cobaan telah kita lalui dan pastinya kita masih tetap optimis. Album ini juga bisa menjadi tolok ukur dari sebuah band yang sudah ada di kancah musik tanah air selama satu dekade lebih,” tandas Jikun.

Monday, August 14, 2006

Cokelat (Untukmu Indonesia-ku)

INDONESIA sebentar lagi merayakan hari jadinya yang ke 61.
Sebagai bingkisan ulang tahunnya, Cokelat menghadirkan sebuah album bertema patriotisme yang bertajuk Untukmu Indonesiaku.
Bingkisan teramat spesial dari Cokelat yang juga baru merayakan ulang tahunnya yang kesepuluh ini, berisikan daur ulang 8 buah lagu wajib nasional dan lagu bertema perjuangan ditambah 2 buah lagu baru dari Cokelat.

Lagu daur ulang ini sengaja dihadirkan Cokelat dengan ramuan musik pop modern tanpa menghilangkan ruh lagu aslinya. Sedangkan dua buah lagu barunya bisa jadi merupakan anthem setelah “Bendera”. Seperti apa album Cokelat kali ini yang membuat Cokelat harus menyepi di luar Pulau Jawa dan juga membuat Kikan menangis saat take vokal?

Album ini diberi judul Untukmu Indonesiaku berisikan 10 buah lagu bertemakan perjuangan dan semangat patriotisme Indonesia .
Di album ini, terdapat pula tiga buah lagu milik Cokelat yaitu lagu “Bendera” yang di mix ulang ditambah dua buah lagu baru Cokelat berjudul “Cinta Damai” dan “Ikrar Kami”.
Semuanya diracik dalam ramuan pop modern dan dibumbui sweet rock ala Cokelat.
Segmentasi album di bagi dalam dua kubu yaitu ballad dan rock sehingga diharapkan semua pendengar musik baik musik keras maupun musik lembut dapat menikmati album Untukmu Indonesiaku ini.

Untukmu Indonesiaku ini dihadirkan tepat di ulang tahun negeri tercinta Republik Indonesia yang ke-61.
Bingkisan ini amat spesial dalam menghadirkan sesuatu untuk Indonesia yang sesuai dengan kemampuan Cokelat.
“Kami bikin album ini untuk memberi sesuatu bagi Indonesia yang tentunya sesuai dengan kemampuan Cokelat yaitu bermusik. Cokelat merasa, sudah saatnya melestarikan lagu nasional yang sekarang ini sudah tenggelam dari hinggar bingar oleh musik modern,” tandas Edwin, gitaris Cokelat.

Pengerjaan album memakan waktu sekitar tiga bulan dan menyita perhatian personil Cokelat secara khusus.
Cokelat menyisihkan waktunya untuk memilih dan mengaransemen lagu-lagu perjuangan yang akan dimasukkan ke album Untukmu Indonesiaku di tengah-tengah promo tur album The Best Of Cokelat ‘Tak Pernah Padam’.
Cokelat juga menyempatkan diri untuk melakukan riset singkat tentang lagu-lagu perjuangan yang populer di tengah masyarakat di kota-kota yang mereka singgahi selama tur.
Dari riset singkat tersebut, Cokelat menemukan tak banyak lagu-lagu perjuangan yang dikenal oleh anak muda sekarang.
Hal ini sempat membuat sedih Cokelat namun hal ini juga yang menjadi cambuk motivasi Cokelat untuk segera menggarap album ini.

Demi mendapatkan feel yang pas dalam menggarap album ini, Cokelat hijrah ke Pulau Bali. Selama empat hari di akhir bulan Mei 2006 mereka masuk studio dan merekam lagu-lagu tersebut.
Mengapa Pulau Bali yang dipilih untuk proses rekaman album ini? Ronny, bassis Cokelat, coba mengungkapkan, “Pulau Bali identik dengan wisata Indonesia . Pulau ini adalah identitas Indonesia di mata dunia. Kami mencoba menangkap emosi tersebut dari turis-turis yang datang di Pulau ini. Kami juga ingin mengangkat Bali kembali setelah beberapa kali Pulau ini digoncang bencana.”

Tak hanya proses rekaman, pemotretan gambar-gambar untuk album ini pun dilakukan di Bali . Personil Cokelat berbaris rapih dalam pakaian dinas upacara Paskibra di bibir pantai.
Mereka tampak gagah menatap cakrawala langit dibawah kibaran bendera merah putih.
Sesi pemotretan ini sempat menarik perhatian wisatawan manca negara yang melintas.

Memasuki pertengahan bulan Juni 2006 lagu-lagu untuk album Untukmu Indonesiaku ini selesai direkam.
Setelah proses seleksi terpilihlah sepuluh lagu yang akan dimasukkan ke album Untukmu Indonesiaku. Lagu-lagu tersebut adalah:

1. Satu Nusa Satu Bangsa
Lagu karya Liberty Manik atau akrab dengan L. Manik, komponis kelahiran Batak, menjadi single pertama album Untukmu Indonesiaku. Tema patriotik sangat terasa di lagu ini. “Satu Nusa Satu Bangsa” diaransemen kembali oleh Cokelat dengan irama ballad-rock dengan dukungan orkestrasi dari Sa’unine.

2. Tanah Airku
Lagu ini memiliki makna mendalam bagi Cokelat. Saat take vokal lagu karya Ibu Sud ini, Kikan sempat meneteskan air mata waktu menyanyikan lirik lagunya. “Sedih banget waktu menyanyikan liriknya. Memang sih lagu itu diciptakannya sudah lama, tapi keadaannya bertolak belakang dari kenyataan sekarang. Sedih tapi saya harus bangga sebagai orang Indonesia ,” papar Kikan. Lagu ini memasukkan unsur irama Minang yang dimainkan oleh Jazzer handal, Riza Arsyad.

3. Kebyar Kebyar
Nuansa rock yang hadir disini sangat kental. Cita suara metal ini berhasil menghadirkan lagu karya Gombloh semakin menghentak. Lewat lagu ini, Cokelat ingin mengorbarkan kembali semangat pemuda Indonesia untuk berani berkorban demi Indonesia .

4. Cinta Damai
Ini adalah lagu yang diciptakan oleh Edwin Cokelat. Lagu ini mencoba mengangkat tema patriotik sesuai dengan keadaan saat ini. Dalam tempo ballad, Cokelat mencoba membangkitkan semangat untuk tetap menjaga perdamaian di Indonesia .

5. Syukur
Lagu wajib yang harus dinyanyikan saat Upacara Bendera ini dibawakan kembali ala Cokelat. Meskipun dibawakan dengan gaya nge-rock, lagu ini kesan khidmatnya tetap terjaga. Tembang ini adalah karya H. Mutahar yang diperkenalkan pada Januari 1945. Biasanya lagu ini dinyanyikan hanya lirik versi pertamanya saja yaitu lirik yang berisi gita puja terhadap Tuhan. Namun disini, Cokelat membawakan juga dua versi lainnya yang bercerita tentang rasa terima kasih pada pahlawan bangsa dan apresiasi terhadap kegiatan Pramuka Indonesia . Cokelat berhasil mendeskripsikan lagu ini kembali menjadi sebuah lagu rock modern yang tidak membosankan.

6. Bangun Pemudi Pemuda
Lagu ini dibuka dengan pembacaan Sumpah Pemuda oleh para personil Cokelat. Khusus lagu ini, Anda akan dibawa ke dimensi jauh di masa depan. Bekerja sama dengan DJ T3ORY dari Mobil Derek, lagu karya A. Simanjuntak ini menjadi lagu bernuansa elektronika. Sangat kreatif, memang.


7. Ikrar Kami
Lagu baru kedua dari Cokelat yang hadir di album ini. Lirik dan lagunya sarat akan melodi pop yang riang dan ditulis oleh Ernest Cokelat. Biasanya Cokelat menulis lagu bertema cinta dan patah hati namun kali ini muncul sebuah lagu dengan tema berbeda. Ini adalah salah satu karya Cokelat yang didedikasikan untuk semangat nasionalis.

8. Halo-Halo Bandung
Sengaja dipilih lagu karya Ismail Marzuki ini untuk masuk ke dalam album Untukmu Indonesiaku. Cokelat sebagai band yang berasal dari kota Bandung merasa lagu ini wajib diperdengarkan kembali dalam nuansa rock modern.

9. Bendera (New Version)
Hadirnya album perjuangan Untukmu Indonesiaku ini tak dipungkiri lagi ada dibalik kesuksesan single Bendera. Cokelat menghadirkan kembali lagu karya Eross Sheila on 7 yang dikenal tahun 2002 dalam versi yang berbeda. Kali ini, lagu yang sempat menjadi lagu tema film nasional karya Nan . T Achnas, dihadirkan dengan raungan gitar yang padat. Melodi dan distorsi dari gitar yang berbeda dari aslinya semakin membakar semangat untuk tetap menjunjung tinggi nasionalisme.

10. Hari Merdeka
Untuk lagu ini, Kikan punya maksud tersendiri, “Lagu-lagu wajib nasional bertema perjuangan kental akan orkestrasi, maka itu kami tidak ingin menghilangkan elemen penting dari lagu tersebut. Kami menggabungkan rock Cokelat dengan orkestrasi alat musik gesek dalam lagu perjuangan yang kami aransemen ulang.” Lagu bertempo mars ini memang hadir dalam rock yang dasyat ditambah cita suara string dari orkestrasi Sa’unine. Hal ini semakin memantapkan lagu karya H. Mutahar menjadi lagu dengan irama rock modern yang pantas.

Official Site:
www.cokelat.net