Showing posts with label Efek Rumah Kaca. Show all posts
Showing posts with label Efek Rumah Kaca. Show all posts

Wednesday, April 15, 2009

Kompetisi Making The Video Efek Rumah Kaca


Punya bakat bikin video klip? saatnya unjuk kebolehan dan kreativitas bikin video klip musik melalui ajang Video Clip Competition Video Melulu by Efek Rumah Kaca. Kompetisi ini hasil kerjasama kelompok musik Efek Rumak Kaca dan Hai-Online sebagai wadah untuk menyalurkan bakat sebagai pembuat video klip.

Di ajang ini, peserta harus bisa menerjemahkan lirik lagu dari album terakhir Efek Rumah Kaca "Kamar Gelap" dalam bentuk visual berupa video klip, ada banyak lagu dari album ini yang menarik untuk dibuat video klip terutama single Kenakalan Remaja Di Era Informatika yang sebelumnya video klip ini sudah tayang di YouTube.

Aturan main untuk ngikutin ajang inipun mudah. Lagu yang akan dibuat video bebas dipilih, di video tidah harus ada personil ERK so kalo pengin ada video mereka dapat direkam saat manggung karena penilaian dititikberatkan pada ide cerita dan secara visual. Kalo udah kelar bikin video diupload dalam format flv (flash video) di website Hai Screen Video Melulu di Hai Online, selain itu video asli dalam format DVD High Quality juga harus dikirimkan ke redaksi Hai Online sampai 31 Juli 2009.

Video klip yang memenuhi syarat dan masuk nominasi akan ditayangkan di website untuk dipilih oleh pengunjung sebanyak 10 video dan akan dimasukkan dalam DVD Kompilasi. Dari 10 nominator tersebut setelah terpilih sebanyak 3 pemenang dan masing-masing mendapat hadiah sedangkan yang menjadi video klip pilihan akan dijadikan sebagai official video Efek Rumah Kaca plus hadiah 10 juta rupiah. Buruan cari ide dan tuangkan kreatifitas.



Author: Tamtomo | More Music On: www.tamtomousic.co.cc


Friday, March 13, 2009

Clas Music Heroes, The Winners

Clas Music Heroes tahun ini sudah diumumkan, penghargaan yang bertema "Talk Less Do More" atau "tak banyak omong, tapi prestasinya mencorong" diberikan kepada artis papan atas dan legendaris Iwan Fals. Kemenangan Iwan Fals ini selain ditentukan melalui pemungutan suara via SMs juga melalui penjurian. Para dewan juri selain Andy F Noya & Ricky Siahaan (Rolling Stone Indonesia) ada juga Anton Wahyudi (Praktisi Radio), Bongky (Musisi, Produser), Dahono Fitrianto (Kompas), Denny MR (Pengamat Musik) dan Yoris Sebastian (OMG Creative Consulting).

Selain Iwan Fals yang terpilih sebagai pemenang, ada 17 musisi yang menerima predikat serupa antara lain Slank, Peterpan, Melly Goeslaw, Krisdayanti, Gigi, Agnes Monica, Ari Lasso, Project Pop, Yovie and Nuno, Andra and The Backbone, Cokelat, Sheila On Seven, Naif, Letto, The Changcuters, dan Efek Rumah Kaca.

Penghargaan Clas Music Heroes yang disponsori oleh salah satu produk rokok ini selain memberikan penghargaan kepada para artis Indonesia yang pantas menjadi panutan di dunia musik tanah air juga diberikan pada tempat-tempat yang mempunyai keunikan, prestasi ataupun kontribusi positif terhadap sekitar.

Ada 12 Tempat Yang memiliki keunikan, prestasi ataupun kontribusi positif terhadap sekitar antara lain Desa Jatiluwih (Tabanan –Bali), FX Lifestyle X’nter (Sudirman, Jakarta), Jembatan Tengku Fusabilillah (Trans Barelang, Batam), Kawasan Mega Wisata Ocarina (Batam), Museum Kartun Indonesia (Bali), Poli dan Taman Baca Amin (Batu, Malang), Perpustakaan SOEMAN HS Propinsi Riau (Pekanbaru), Pulau Penyu (Tanjung Benoa –Bali), Pt. Kereta Api (PERSERO) atas Produk Kereta Wisata Nusantara (Jakarta), Rasuna Epicentrum (Jakarta), Rest Area KM 19 Jalan Tol Jakarta Cikampek dan terakhir Terminal 1 Bandar Udara Soekarno Hatta (Jakarta).


Sebagai penghargaan di beberapa kota tersebut selain di Jakarta tepatnya di FX mall didirikan Monumen Clas Music Heroes juga didirikan monumen serupa di kota-kota lain seperti di Jogja (bunderan UGM), Batam (Simpang Jam), Bandung, Semarang (Pandanaran), Surabaya, Malang, Medan, Jambi, Palembang, Pekanbaru, Padang, Lampung dan Denpasar (Bali).

Selamat kepada para pemenang semoga selalu menginspirasi musisi yang lain serta para fans masing-masing.



Author: Tamtomo | More Music On: www.tamtomousic.co.cc

Tuesday, January 06, 2009

Penerawangan Musik Indonesia 2009? Musik Melayu Mulai Sayu?


Bagaimana dengan prediksi musik indonesia di tahun 2009, apakah masih didominasi dengan musik yang mendayu dayu seperti tahun 2008? apakah acara tangga lagu alias pemutaran video klip masih marak di televisi swasta kita di tahun 2009 ini ataukan digantikan dengan sinetron lagi? Trus apakah masih marak munculnya band-band baru pengusung format lagu melayu dengan cukup album aja?


Simak tulisan berikut:


Menarik untuk menerawang tren musik tahun ini.Sebab,musik pop Melayu yang mendayu-dayu diprediksi bakal mulai sayu.Benarkah?

"... Oh oh… Lagu cinta melulu Kita memang benar-benar Melayu Suka mendayu-dayu..."

Lirik lagu Cinta Melulu milik grup indie Efek Rumah Kaca itu seolah menyoroti membuncahnya musik pop Melayu yang merajai hampir setiap tangga lagu pada 2008 silam. Ya, beberapa band yang mengusung genre ini memang mencatat prestasi fenomenal, terutama urusan unduh-mengunduh ring back tone (RBT).

Rata-rata memiliki hits single yang mudah dihafal dan dilafalkan. Apakah itu Kangen Band, Wali, hingga Vagetoz, band asal Sukabumi mencatat aktivasi RBT tertinggi (mencapai lima juta download). Apakah prestasi itu tetap berulang pada 2009 ini?

Pengamat musik Denny Sakrie memperkirakan, tren musik Melayu bakal mulai sayu. Indikasi sudah terendus sejak medio 2008, terutama setelah grup-grup seperti Nidji, atau SamSonS, mulai mendapatkan perhatian lebih dari publik.

Saya melihat, sudah mulai ada kejenuhan akan selera musik Melayu. Kejenuhan itu muncul karena musik seperti ini terus saja dijejalkan para pelaku industri di Indonesia. Kalau pun bertahan, paling hanya sampai pertengahan tahun saja,” katanya.

Meski mengaku sulit memprediksi selera pasar, Denny memperkirakan, 2009 menjadi penanda menggeliatnya kembali musik-musik berjenis R&B dan rock.Genre ini disebutnya bakal menggantikan pop Melayu. ”Sejak akhir 2008 silam, beberapa musik R&B dan rock kan sudah mulai bermunculan,”paparnya.

Denny juga melihat, band-band indie label yang memberi alternatif pilihan, punya peluang besar untuk tampil lebih dominan. Sebut saja Sind3ntosca, ataupun Kanan Lima yang catchy. Begitu pula band indie yang lebih mapan dan lebih dulu dikenal seperti Mocca, The White Shoes dan The Couple Company, Efek Rumah Kaca, hingga The S.I.G.I.T.

Mereka akan jadi alternatif yang menarik bagi para pencinta musik yang ingin mendapatkan ruang dengar berbeda.Hanya saja,mereka (grup-grup itu) harus melakukan promosi yang tepat sasaran,” jelasnya.

Pengamat musik lainnya, Bens Leo, juga sependapat. Ia menambahkan, untuk mendapat perhatian dari publik musik, para musisi harus terus melakukan inovasi. Inovasi ini bisa berupa adanya eksplorasi sound yang terus dilakukan, atau perubahan pendekatan dalam bermusik.

Dia mencontohkan langkah Glenn Fredly yang berduet dengan Dewi Persik sebagai salah satu bentuk inovasi yang segar dan berhasil diterima publik dengan baik. Inovasi bermusik, lanjut Bens,punya makna lebih penting bagi band-band lama yang sudah mapan.Bagaimana pun juga, pangsa pasar industri musik adalah anakanak muda.

Jika band-band mapan itu tidak bisa memasukkan unsur kekinian dalam musiknya, maka nama mereka akan tenggelam dan digantikan oleh pendatang baru yang lebih segar.

Saya kira, itu sudah sebuah hukum alam dalam industri musik. Bahwa yang tua akan digantikan yang muda. Jadi,mereka harus terus bisa memasukkan unsur kekinian dalam jati diri musik mereka agar tidak ditinggalkan,” jelasnya.

Keduanya juga sama-sama sepakat soal Peterpan. Meski dipastikan berganti nama pada Agustus 2009 nanti, band ini diperkirakan akan tetap bisa meraih kesuksesan yang tidak jauh berbeda. Hanya saja, personel tidak berganti, dan mereka tetap bisa menghasilkan sebuah karya yang kuat dan sederhana. (seputar indonesia, helmi firdaus)


Author: Tamtomo | More Music On: www.tamtomousic.co.cc

Monday, December 29, 2008

Lagu METAL Merambah TV

Jangan salah sangka dengan METAL di judul tulisan ini. Bukan METAL aliran musik semacam milik Metallica atau Sepultura tapi ada aliran baru di dunia musik Indonesia yg lagi marak dan sekali latah dari band-band baru..

METAL, melow total atau menye-menye total, lagu-lagu mendayu yang dibawakan kelompok musik yang anggotanya cowok, tentang perselingkuhan, patah hati, putus cinta dan kisah sedih lainnya. Coba cek di acara pemutaran video klip yang bertebaran di televisi mulai dari Inbox, Dahsyat, Klik!, 1satunya, OnTheSpot dan beberapa acara musik lainnya yang membombardir setiap saat dengan lagu-lagu minor.

Menurut band Efek Rumah Kaca di salah satu single Cinta Melulu yang mengkritik keberadaan lagu tersebut, lagu sendu dan mendayu-dayu adalah selera kuping melayu dan tercatat band-band bernada minor seperti Kangen Band (yang sering dihujat) dengan kemampuan bermusik pas-pasan serta lirik yang lugu (lugas dan wagu!) diikuti beberapa band seperti ST-12 dengan P.U.S.P.A. (inget lagu ini di Trans7uara kemarin jadi bahan ketawaan dan ledekan di backstage) atau Wali dengan single Dik yang sederhana atau D'masiv dari Musica. Cerita tentang ST12 dengan penampilan ketiga personil yang beranting aneh ini juga teringat waktu tampil di acara ultah globalTV yang berabtakan saat live. Oh ya selain keempat contoh band itu masih banyak band-band baru dengan nada serupa bernuansa menye-menye (coba perhatikan lagi!).

Sebenernya kalo bicara tentang lirik yang sederhana boleh kita contoh Potret dengan salah satu lagu yang hanya terdiri satu kalimat "i just wanna say i l u" tapi karena lagunya sendiri dan penataan muik yang riang menjadikan salah satu lagu yang unik. Atau lirik lagu yang bersayap dan puitis, pengungkapan cinta yang universal seperti milik Letto, contohnya di single Bunga Di Malam Itu atau single terbaru Lubang Di Hati menjadikan karya yang disukai.

Suka gak suka, kembali lagi ke kuping melayu seperti kata Efek Rumah Kaca, lagu mendayu tersebut malahan meraih popularitas (bukan kualitas loh!) mulai dari tingkat donlod ilegal di internet, CD-mp3 bajakan di lapak, donlod ringbacktone dan menjadi lagu tema sinetron yang tentunya menye-menye pula. Inget D'Masiv meraih 5juta donlod RBT, belum Vagetoz dari Sony BMG dengan jumlah yang gak jauh beda (saat ini RBT menjadi alah satu sumber penghasilan yang cukup besar bagi insan musik).

Mengenai lagu sendu ini juga seperti roda berputar, saat jaman pemerintahan Soekarno kita ingat pelarangan dan pemenjaraan Koes Plus karena aliran musik "Ngak-ngik ngok", terus di jaman Orba, Menpen Harmoko sempat melarang lagu-lagu "cengeng" diputar di TVRI yang gak memberi semangat, saat itu marak lagu-lagu milik Rinto Harahap, Pance, A Riyanto atau Obbie Mesakh dan beberapa artis seperti Nia Daniati atau artis-artis milik perusahan rekaman spesialis lagu cengeng JK Records. Akankah terjadi pengulangan sejarah?

Di sela-sela era sentimentil musik indonesia ini masih ada kelompok musik dengan idealismenya di berbagai jalur musik meski dalam peredarannya masih di bawah minor label. Salah satu contohnya ya Efek Rumah Kaca tadi, terus ada lagi Zeke & The Popo, Everybody Loves Irene atau bahkan Gugun & The Bluesbug yang terkenal di luar negeri. Atau di jalur jazz saat ini ada Ecoutez dengan album barunya, Twentyfirst Night di jalur yang lain atau NIDJI dengan Shadows-nya merambah luar negeri.

Tapi semua tergantung selera masing-masing sih,tulisan diatas mungkin pendapat pribadi.

Nada-nada yang minor / Lagu perselingkuhan /
Atas nama pasar semuanya begitu klise


Elegi patah hati / Ode pengusir rindu

Atas nama pasar semuanya begitu banal


Lagu cinta melulu / Kita memang benar-benar melayu

Suka mendayu-dayu


Apa memang karena kuping melayu / Suka yang sendu-sendu

Lagu cinta melulu kita memang benar-benar melayu / suka mendayu-dayu


Author: Tamtomo | More Music On: www.tamtomousic.co.cc

Saturday, September 20, 2008

The Winners Of MTV Indonesia Awards 2008


MTV Indonesia Awards 2008 semalem (19.09.08) digelar di Tennis Indoor Senayan dengan menampilkan beberapa artis ternama di Indonesia eperti NIDJI, DI3VA dan The Changchuters. Beberapa artis pendatang baru meraih penghargaan MTV Indonesia Awards 2008 seperti Afgan yang menyabet sekaligus 2 gelar sebagai Most Favourites Male & Artist of The Year mengalahkan beberapa artis kawakan Tompi, Ari Lasso, Once Dewa & Glenn Fredly. D'Masiv yang merupakan pemenang A Mild Wanted 2007 mendapatkan penghargaan sebagai Most Breakthrough Artist.

Letto, band dari Jogja juga mendapatkan 2 gelar untuk video klip "Permintaan Hati" sebagai Video Of The Year dan Best Model On Clip.

Daftar peraih penghargaan MTV Indonesia Awards 2008 secara lengkap:
Most Favorite Female - Agnes Monica
Most Favorite Male - Afgan
Most Favorite Band/Grup/Duo - Yovie & Nuno
Most Breakthrough Artist - d'Masiv
Best Video of the Year - Letto 'Permintaan Hati sutradara A.n.g.g.y
Best Model on Clip - Marsha Timothy - Letto 'Permintaan Hati'
Best Performance - The Changcuters 'I Love U Beibeh'
Best Cutting Edge Artist - Efek Rumah Kaca 'Cinta Melulu'
Artist of the Year - Afgan

Author: Tamtomo | More Music On: www.tamtomousic.co.cc


Friday, July 25, 2008

Menyeruaknya Psychedelia Pop

Efek Rumah Kaca juga geram pada musik pop yang banyak menyanyikan cinta.

Tahun ini adalah tahun invasi band-band dalam industri musik (pop) Indonesia. Sayangnya, sebagian besar justru terjebak dalam keseragaman. Kulminasinya adalah mencuatnya "inflasi" musik pop hingga penikmat musik mengalami kesukaran membedakan antara satu band dan band yang lain.

Hal itu mengingatkan kita pada dasawarsa 1970-an, yang juga disesaki banyaknya band setelah keran yang dibuka Koes Plus mengalir deras. Saat itu, keseragaman identitas pun terjadi, baik dari struktur penulisan lagu maupun lirik. Remy Silado sempat melontarkan kritik bahwa lagu-lagu pop (band) saat itu sarat dengan kata "mengapa" yang menteror kuping.

Tak jauh beda dengan yang terjadi belakangan ini. Simaklah lirik lagu-lagu dari selaksa band yang dijejali kata-kata "selingkuh", "kekasih gelap", "bagai bintang", "bukan pujangga".

Dan seperti yang telah terjadi, di tengah keseragaman itu toh tetap ada yang berupaya untuk mengikisnya dengan menjejalkan karya-karya yang oleh sebagian khalayak awam dianggap menyimpang. Tapi bukan tak mungkin, ketika keseragaman mencapai titik nadir, suguhan musik pengimbangnya yang kerap beroposisi bisa berubah menjadi trend-setter.

Di tengah maraknya keseragaman, menyeruaklah beberapa band yang kebetulan tercerabut dari komunitas indie, yang mencoba menawarkan konsep yang sebetulnya bukan hal baru: psychedelia pop. Konsep ini merebak di Inggris dan Amerika Serikat di paruh dasawarsa 1960-an. Tersebutlah tiga band indie, yaitu Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca, yang masing-masing baru saja merilis album debut tahun ini.

Vox, band asal Surabaya yang terdiri atas Joseph Sudiro (bas, vokal), Vega Antares Setianegra (vokal, gitar), Donnie Setiohandono (keyboard, vokal), dan Gabriel Mayo Riberu (drum, vokal), merilis album Pada Awalnya (Aksara Records). Zeke and The Popo dari Jakarta, yang terdiri atas Khaseli "Zeke" Gumelar (vokal, keyboard), Iman "Babyfaced" Putra Fattah (gitar, sound device), Leonardo "Mugeni" Ringo (gitar), Yudhi "Sideburns" Harry Noor (bas), dan Amir "Kuro" (drum), meluncurkan album Space in the Headline. Adapun Efek Rumah Kaca, yang terdiri atas Cholil (vokal, gitar), Adrian (bas), dan Akbar (drum), muncul dengan album bertajuk Efek Rumah Kaca, yang mengingatkan kita pada penemuan ilmuwan Joseph Fourier pada 1824, yaitu proses atmosfer memanaskan sebuah planet.

Tak jelas kenapa banyak band indie kini yang terpukau pada atmosfer psychedelia, genre yang condong pada gerakan kultur era 1960-an. Psychedelia adalah fenomena bawah tanah kala itu yang kemudian berubah menjadi overground, terutama setelah nama-nama sohor, seperti The Beatles, mulai menyelusupkan elemen psychedelic dalam album Revolver (1966) dan mencapai puncak dengan Sgt Pepper's Lonely Hearts Club Band (1967). Juga harmoni vokal The Beach Boys dalam album Pet Sounds (1966), yang menjadi inspirasi anak band.

Tak bisa dimungkiri kehadiran elemen psychedelic yang beratmosfer trippy atau alam bawah sadar memang banyak bergumul dalam kitaran efek bunyi-bunyian yang membalut struktur lagu yang memang diakui catchy. Jika ingin mengendus aroma psychedelic dalam sebuah lagu, dipastikan bisa dijumpai anasir seperti suara sitar, glockenspiel, fuzz guitars, efek tape, hingga backward guitar (bunyi gitar yang diputar terbalik).

Simaklah introduksi lagu Jalang, yang dibawakan Efek Rumah Kaca, yang menampilkan sebuah backward dari interlude lagunya. Tata musik kelompok ini memang jelas bermuatan anasir psychedelia, apalagi mereka rasanya juga banyak terpengaruh post-rock ataupun shoegaze, subgenre yang berakar kuat pada gerakan psychedelia 1960-an. Efek Rumah Kaca pun cukup cerdas menuliskan lirik. Misalnya, dalam lagu Di Udara, yang bertutur tentang aktivis Munir:

Kubisa tenggelam di lautan
Aku bisa diracun di udara
Aku bisa terbunuh di trotoar jalan
Tapi aku tak pernah mati

Sebuah paparan lirik yang tak ditemui dalam rimbunnya band-band sekarang, yang hanya menyitir tema cinta yang dangkal. Bahkan trio ini pun geram dengan kondisi industri musik kita sekarang ini dalam lagu Cinta Melulu:

Nada nada yang minor
Lagu perselingkuhan
Atas nama pasar semuanya begitu klise
Vox bahkan lebih memilih tema persahabatan dalam lagu Ingatkah Pertama:

Ingatkah pertama kau terhenti
Dan berjanji untuk mencoba kembali?
Dan Vox sangat terpukau dengan supremasi Beach Boys dan The Beatles. Simaklah nuansa lagu Pada Awalnya, yang mengingatkan kita pada Wouldn't Be Nice-nya Beach Boys (album Pet Sounds). Pada Oh Well, dengan cerdik Vox kembali menyulam aura God Only Knows-nya Beach Boys. Petikan slide gitar pada lagu ini mengingatkan kita pada jati diri George Harrison. Lalu di coda kita diberi ilusi seolah terjebak deja vu All You Need is Love-nya The Beatles dengan tumpukan bunyi-bunyian instrumen tiup yang dimainkan Indra Aziz.

Lagi-lagi aura The Beatles era psychedelic tercium pada lagu Professor Komodo pada album perdana Zeke and The Popo. Kelompok ini sangat tekun menggarap musik, meski terkadang terasa agak berlebihan. Simak saja susupan tiupan saksofon Indra Aziz pada Unrescued World Supposed to Rescued World. Bahkan mereka pun memasukkan unsur orkestral pada interlude yang diarahkan Addie M.S. Sebuah komposisi yang membuat pendengar melayang kehilangan gravitasi. Kemurungan dan keterasingan ala Pink Floyd hingga Radiohead terasa di beberapa komposisi.

Tampaknya Zeke and The Popo memang telah memilih psychedelia sebagai cetak biru musikalnya. Mereka pun menorehkan tag-line pada kemasan albumnya: "an album for lonely people, and for those who are looking for loneliness".

Nah, jika Anda ingin mengasingkan diri dari cengkeraman musik pop (seragam) dari band yang jumlahnya tak terhitung itu, suguhan album dari ketiga band tersebut--Vox, Zeke and The Popo, dan Efek Rumah Kaca--layak disimak.

Sumber: Denny Sakrie, pengamat musik, Koran Tempo Minggu

Thursday, June 26, 2008

RBT Di Udara Efek Rumah Kaca Untuk Munir


Efek Rumah Kaca meluncurkan single keduanya yaitu Di Udara setelah Cinta Melulu. Yang unik keseluruhan hasil dari Ring Back Tone/ Nada Sambung Pribadi lagu Di Udara akan sepenuhnya disumbangkan untuk Almarhum Munir melalui Kontras.

Tema lagu Di Udara sendiri mewakili perjuangan Almarhum Munir yang sampai sekarang kasusnya belum selesai juga, apakah ada kelompok musik lain yang mengikuti jejak Efek Rumah Kaca? Kita tunggu aja.

Acara peluncuran single inipun telah dilakukan Jumat kemarin (20.06.08) di Pasar Festival Kuningan Jakarta.

Info: www.myspace.com/efekrumahkaca