Tuesday, February 13, 2007

Yovie Widianto (Kemenangan Hati)

Cara seorang Yovie Widianto mengungkapkan kejujuran………
Yovie Widianto adalah salah satu nama besar yang tak asing lagi dalam belantika musik Indonesia . Lewat kejeniusannya, ia berhasil melahirkan sejumlah tembang hits bernafaskan cinta. Lewat lagu-lagunya pula, Yovie berhasil melambungkan sejumlah nama penyanyi untuk berkiprah di blantika musik Indoensia diantaranya Rio Febrian, Audy, Rida Sita Dewi dan banyak lagi. Setelah merilis A Potrait of Yovie di tahun 2005, kini Yovie kembali hadir lewat album bertajuk Kemenangan Hati.

Melalui album ini, Yovie seakan ingin memberi pesan tersirat bahwa hati yang bersih, jujur, dan positif akan selalu menang dalam menghadapi masalah seperti apapun. Berdasar atas konsep itu pulalah, Yovie mengisi albumnya dengan 12 lagu yang direkam secara live saat ia menggelar konsernya yang bertajuk The Magical Journey of Yovie Widianto di JHCC tanggal 14 september 2006 ditambah 2 buah lagu yang direkam di studio yaitu Kekasih Sejati dan Selingkuh yang keduanya dinyanyikan oleh Monita. “Merekam secara live ataupun studio semua punya seni tersendiri. Merekam lagu secara live berarti jujur, spontan, apa adanya. Sedangkan studio tentu tidak seperti ini. Kespontanan dan apa-adanya inilah yang ingin saya hadirkan,” tutur Yovie.

Selingkuh dari Konser Hingga Album
Cerita menarik dari konser The Magical Journey of Yovie Widianto hingga hadirnya album ini adalah lahirnya lagu Selingkuh. Yovie menyajikan sebuah lagu hasil karya spontan dengan petunjuk dari penonton konser The Magical Journey tersebut. Yovie meminta penonton memberi 3 buah nada dan 3 kata. Diberilah nada ‘si-la-re’ dan kata ‘maaf-manis-selingkuh’. Yovie kemudian balik ke belakang panggung diikuti sorotan kamera. Sebuah kondisi yang sulit dilakukan, karena sorotan lampu kamera dapat mengganggu konsentrasi, dan Yovie hanya diberi waktu 10 menit sudah termasuk jalan ke balik panggung dan muncul kembali. Dua menit sebelum batas waktu, Yovie sudah keluar panggung dan meminta Hedy Yunus untuk menyanyikannya. Tentu saja keberhasilan Yovie menjawab tantangan membuat lagu instan yang indah dan lirik yang tajam ini mendapat big applause dari penonton. Ini adalah konsep pertama yang pernah dibuat oleh seorang musisi Indonesia dan tidak sembarang orang bisa melakukannya!

Untuk versi rekaman studionya, Yovie memilih Monita untuk menyanyikan lagu Selingkuh. Monita dipilih agar bisa memberi kesan yang berbeda, soul yang berbeda, nuansa berbeda dengan lagu yang dinyanyikan Hedy Yunus. “Dari aransemen pun akan ada perbedaan. Yang dinyanyikan Hedy bener-bener sebuah produk spontan, sedangkan yang dinyanyikan Monita sudah dipoles sana-sini dalam dapur rekaman. Tetap keduanya menarik untuk disimak. Saya ingin pendengar bisa menilai hasil karya saya dalam format rekaman maupun live” imbuh Yovie. Vokal Monita yang 'remaja banget' dianggap Yovie pas untuk membawakannya.

Kemenangan Hati, Kemenangan Untuk Kejujuran Dalam Berkarya
Dalam pembuatan ini, Yovie melibatkan sekitar 30 orang. Mulai dari pemusik seperti Gerry Herb pada drum, D Bambang P pada keyboard/brass & string section Arr, Edi Kemput pada gitar, dan Tanto “The Groove” pada keyboard yang tergabung dalam Yovie Widianto Music Factory, hingga penyanyi-penyanyi pilihan seperti Armand Maulana, Audy, Rio Febrian, Gea & Dirly Idol. “Setiap penyanyi punya ciri khas sendiri, dan itu yang ingin saya tunjukkan, mengapa hits lagu lawas dibawakan oleh penyanyi yang berbeda dari sebelumnya. Biar soul yang didapat beda,” Yovie menambahkan.

Simak lagu Bukan Untukku yang sebelumnya dibawakan Rio Febrian pada tahun 2001. Lagu ini diaransemen berbeda dengan adanya duet Rio Febrian dengan Armand Maulana. Vokal Armand yang ngerock berbaur dengan vokal Rio yang melankolis ini tampil juga di lagu Seandainya Aku Bisa Terbang. Lalu sejumlah lagu yang sempat dipopulerkan lewat grup Kahitna seperti Merenda Kasih dibawakan dengan vokal lembut Dea Mirela, Tentang Diriku yang dibawakan oleh Sita dan Dea Mirela dengan aroma swing jazz asyik untuk bergoyang.

Indah, Kuingat Dirimu yang pernah dibawakan oleh Yovie & The Nuno dinyanyikan oleh trio Armand, Dudi dan Gail. Lagu Bagaimana yang pernah di aransemen dan dipopulerkan oleh Elfa Secioria pada tahun 1991 dinyanyikan kembali oleh Rio Febrian kental dengan nuansa fusion jazz. Lagu ini merupakan tanda respek Yovie Widianto kepada Elfa Secioria sebagai orang yang berperan besar dalam karir bermusiknya.

Lagu Kemenangan Hati yang menjadi theme song Indonesian Idol 3 dan dinyanyikan oleh 2 runner up Indonesian Idol, Dirly dan Gea. Semua lagu yang tersaji dalam album Kemenangan Hati ini adalah hits-hits pilihan Yovie, tapi apakah ini termasuk best album? “Bukan kok. Saya berharapnya sih semoga orang tidak menilai album ini sebagai best album saya.. Karena saya masih haus berkarya. Saya masih ingin bikin hits lebih banyak lagi dan lebih oke lagi.” As well as Yovie Widianto...

Track List
1. Kemenangan Hati - Dirly & Gea
2. Kekasih Sejati - Monita
3. Bukan Untukku - Armand & Rio Febr /ian
4. Merenda Kasih - Dea
5. Seandainya Aku Bisa Terbang - Rio Febrian & Armand Maulana
6. Indah Kuingat Dirimu - Armand Maulana , Dudi, Gail
7. Selingkuh (Live) - Hedy Yunus
8. Bagaimana - Rio Febr ian
9. Tentang Diriku - Dea Mirela & Sita
10.Takkan Terganti - Dea Mirela
11.Selingkuh - Monita
12.Hangatnya Cinta - Sita
13.Suratku - Sita
14.Adilkah Ini & Nggak Ngerti - Audy & Rio Febrian

Sumber: Sony BMG Indonesia

Tuesday, January 23, 2007

Badai Pasti Berlalu (o.s.t)

ROMAN klasik bersambung yang terbit pada 5 Juli 1972 hingga 2 September 1972 di Harian Kompas dan kemudian bermetamorfosis menjadi karya novel sebelum akhirnya diangkat ke layar perak, telah menjadi sebuah masterpiece yang tak bisa lepas begitu saja kehadirannya dalam perjalanan seni modern bangsa Indonesia. Kisah hidup Siska yang dihiasi oleh cinta Leo dengan segala intrik dan drama yang menghiasinya adalah resep yang telah membawa roman ini menjadi sebuah roman yang paling populer hingga kini. Badai Pasti Berlalu, judul roman tersebut, merupakan karya penulis bernama Marga T yang kemudian pada tahun 1977 diminati oleh Teguh Karya untuk dijadikan film layar lebar. Novelnya laris terjual melebihi angka 24.000 eksemplar dan filmnya sukses mengangkat nama-nama Christine Hakim, Roy Marten, Slamet Rahardjo dan Mieke Wijaya. Ilustrasi musik yang digubah oleh Eros Djarot juga menjadi karya berharga dan sebuah collectors item yang memiliki nilai historis tinggi.

Berangkat dari kesuksesan itu, di tahun 2007 akan dihadirkan tiga buah sinergi dari film, album soundtrack dan konser yang mengangkat kembali kisah Badai Pasti Berlalu. Film re-make nya mencoba mengintrepretasikan kisah Badai Pasti Berlalu dengan tema kekinian dengan menampilkan bintang muda yang tengah naik daun, Vino G Bastian (Realita Cinta Rock N Roll), Winky Wiryawan (Jelangkung, Ruang) dan Raihaanun. Bintang muda ini juga akan beradu akting dengan aktor senior seperti Slamet Rahardjo. Diproduseri oleh Philipus Wirjadi, Afi Shamara dan Dian Mediana dari Astral Pictures dan dengan arahan sutradara Teddy Soeriaatmadja (Culik, Banyu Biru, Ruang) dan penulis skenario Titien Wattimena (Tentang Dia). Meskipun kisah yang diangkat masih bersumber dari novel ataupun film yang sama, Teddy sebagai sutradara punya cara bertutur yang beda. Mengambil setting masa kini dengan pendalaman karakter masing-masing tokoh adalah yang menjadi andalan utama dari film arahan Teddy ini. “Proyek ini dibuat bukan untuk memperbaiki karya yang sudah baik itu, tapi justru karena kami kagum dengan totalitas dan kualitas karya yang dihasilkan oleh seorang maestro seperti Teguh Karya,” paparnya.

Untuk segi album soundtracknya pun digarap sangat serius. SONY BMG Indonesia dalam hal ini adalah bertindak sebagai dokumentator sekaligus membuat lagu-lagu buah karya Eross Djarot menjadi lebih akrab ditengah generasi baru abad milenium dengan menghadirkan penyanyi-penyanyi masanya. “Tidak bisa dipungkiri bahwa soundtrack BADAI PASTI BERLALU karya Eros Djarot dan kawan-kawan adalah sebuah maha karya yang patut dibanggakan. Dan setelah 30 tahun berlalu karya tersebut masih menjadi pembicaraan banyak orang,” papar Toto Widjojo selaku Managing Director PT. SONY BMG Indonesia, “Karena itu, SONY BMG tidak memiliki keraguan dan merasa terhormat telah dipercaya untuk merepresentasikan soundtrack BADAI PASTI BERLALU dengan cita rasa masa kini.” tuturnya lebih lanjut.

Total ada 11 lagu dalam album soundtrack ini dihadirkan dalam energi yang fresh. Simak saja theme song utama film ini yaitu lagu berjudul Badai Pasti Berlalu yang dibawakan oleh Ari Lasso. Nuansa fresh terasa sekali dilagu ini. Lagu ini awalnya dinyanyikan oleh Berlian Hutahuruk, di intrepretasi baru ini, semua musiknya diaransemen ulang oleh Andi Rianto dengan tetap mempertahankan ruh dari lirik yang ditulis oleh Eros Djarot. Lagu-lagu seperti Baju Pengantin yang dibawakan ulang oleh Marshanda juga punya kesan yang sama, begitu pula Angin Malam yang hadir lewat vokal Andy /rif dan Cintaku, dibawakan oleh Lucky Octavian, tampil dengan lantunan swing ballad nan aduhai bisa menjadi simbol dari energi fresh yang coba ditampilkan.

Tak ketinggalan pula intepretasi lagu yang pernah dibawakan Chrisye, Merpati Putih hadir dalam lirihnya vokal Astrid. Banyak lagi artis-artis ternama masa kini yang turut berpartisipasi di dalam album Badai Pasti Berlalu versi tahun 2007 ini, yaitu Glenn dalam Pelangi, Ello dalam Serasa, Audy dalam Merepih Alam. Tampil beda dengan lagu-lagu lain dalam album ini selain karena di bawakan oleh pemeran utama dalam film Badai Pasti Berlalu, lagu Semusim dikemas dalam Housekestra. Orkestrasi yang dimix dengan alunan sampling yang membius oleh DJ Winky Wiryawan dan dinyanyikan Raihanuun.

www.badaipastiberlalu.com



Friday, January 05, 2007

Haruskah Ku Pergi (Iwan Fals & Indra Lesmana)

APA jadinya ketika Iwan Fals yang musisi balada, berkolaborasi dengan Indra Lesmana, musisi jazz? Tentunya musik dan lagu yang apik. Apalagi keduanya punya komitmen yang jelas di kancah musik Indonesia.

Dan itulah yang terjadi, ketika mereka merilis dua lagu baru [benar-benar baru] berjudul "Selancar” dan "Haruskah Pergi". Sayangnya, untuk sementara dua lagu baru Iwan Fals dan Indra Lesmana ini tidak edar di toko kaset. Sampai repot dicari, pasti tidak ketemu, pasalnya lagu itu hanya ekslusif dibuat untuk layan digital Independent Music Portal [IM:port]. Artinya, hanya yang punya ponsel yang bisa download dan ngedengerin lagu idolamu itu secara utuh.

Iwan Fals mulai ekslusif? Tentu bukan karena ingin menjauh dari fansnya kalau Iwan Fals dan Indra Lesmana merekam lagunya hanya di IM:port, tapi lebih kepada "mencoba" sesuatu yang baru saja. Lagu "Haruskan Ku Pergi" malah langsung menjadi top download di layanan itu.

Haruskah Ku Pergi

sering aku merasa
tak mengerti dengan apa yang ada
melihat dari kegelapan
mencoba memuram makna
begitu banyak yang terjadi
begitu banyak yang tak kupahami
orang saling membenci
membunuh dan melukai

perang masih terjadi
bencana bertubi-tubi
kerinduan tercampur
kesepian merajai

*
aku ingin pergi
meninggalkan ini semua
menemani senja
yang sedang berduka
aku harus pergi
meninggalkan semua ini
menemui kamu
yang mengajak bercinta

air mata nyaris jatuh
dipelataran rumah yang redup
ayatmu terkam di lemari-lemari berdebu
ada apa gerangan
mengapa meski tergesa-gesa
tak bisakah tenang
menikmati bulan penuh dan bintang
alun mengarungi waktu
dengan lapar yang menyakitkan
menyikapi semua
dengan kesabaran

aku ingin pergi.....


Download File Mp3 di: SINI

Tuesday, December 12, 2006

Andra & The Backbone

"Sakit hatiku…remuk jantungku… 'tuk membencimu…musnahkan cintaku"

Lirik diatas merupakan rintihan sekaligus raungan keras dari laki-laki yang kecewa terhadap bekas pacarnya. Lagu mellow baru? Album pop-mellow segar? Band pop-rock baru yang bermain dikunci yang itu-itu saja?
AWAS! Ini Andra & The Backbone yang menjadi pelepas dahaga dengan album perdana yang penuh dengan track-track up-tempo membius jiwa!

Sebenarnya ini merupakan proyek solo yang sudah start sejak lama tapi baru intensif digodok rekaman selama bulan Juni hingga Desember ini. Andra yang menjadi salah satu pentolan Dewa, pada akhirnya melepaskan daya rock prima dengan Andra & The Backbone ini!

Untungnya jadwal Dewa ditahun ini menjadi longgar, kalau tidak Andra & The Backbone tak akan hadir memperkaya dunia musik negeri ini. "Musiknya tak serumit Dewa. Rock-nya lebih pop banget, tapi unsur gitarnya lebih banyak, distorsi gitar lebih banyak dari Dewa," kata Andra. Jadi gitar yang lebih menonjol. "Jalur kita memang pop-rock, mengenai baru atau tidaknya corak musik band ini, kita kembaliin ke mereka yang dengerin," tambahnya.

Formatnya sendiri mengambil tiga pentolan utama. "Waktu itu belum kebayang nentuin formatnya. Lalu aku ketemu Stevie Item dan Dedy. Stevie Item sendiri additional player di Dewa, sudah lama kenal. Sebelumnya sudah sering jam session bareng gue," kata Andra. Sedang Dedy baru masuk setelah proses pencarian vokalis. Dedy sendiri saat itu nggak langsung didapuk menjadi vokalis. Butuh dua minggu untuk Andra mendapuk Dedy sebagai vokalis. "Andra dan gue ketemu, ngobrol bentar, dan masuk studio untuk bikin demo-demo. Awalnya memang baru ngisi-ngisi demo aja. Jadi gue nggak punya pikiran 'oh gue bakal jadi vokalis' karena gue memang suka bantuin temen-temen gue untuk bikin demo," kata cowok yang belakangan dengerin Led Zeppelin dan Deep Purple lagi demi proyek band ini. Switchfoot, Radiohead, Incubus juga menjadi band-band yang mampir ke telinga Dedy. Posisi lain? "Untuk drum, sebenarnya aku sudah suka dengan permainan satu orang ini tapi sayangnya dia sudah ada band. Jadi mau nggak mau mesti pakai additional drummer," jelas Andra.

Ramuan musik Andra & The Backbone sendiri begitu catchy tapi unik. Keras tapi renyah. Ini tentunya berkat banyak influence. "Latar belakang musik kita beda-beda. Kayak Stevie nih metal banget. Jimmy Eat World, Foo Fighters jadi musik yang kita dengerin. Campur. Maunya pop-rock tapi waktu awal proses rekaman kita bikin lagu kenceng-kenceng. Eh, kesininya kita malah bikin yang rada akustik kayak Simon & Garfunkel. Kita jadi heran. Intinya, ada lagu yang begitu (akustik) dan ada juga yang kenceng-kenceng. Jadi kita free, ngalir aja…” ujar Andra.

Untuk album ini total ada sepuluh lebih lagu. Ada satu lagu instrumen yang diselipkan, jatuhnya lebih ke track balada. Porsinya sendiri lebih banyak track-track up-tempo. Akustiknya dua lagu saja. Single pertama tetap yang up-tempo. "Semua track di album ini memang menantang kita bertiga, karna waktu aku ketemu Dedy, kita masih meraba (musiknya), cari nada dasarnya (suara) Dedy direkam dalam empat lagu, ternyata kerendahan buat dia, akhirnya diulang lagi – dinaikkin nada dasarnya, baru ketemu, oh ternyata suaranya dia disini," cerita Andra. Prosesnya cukup lama juga karna kita ketemunya nggak seperti yang 'yuk, latihan nge-jam', jadi kita begitu ketemu langsung 'ayo take'. Untuk vokal, lagu-lagu yang slow/akustik adalah yang susah dimainkan. "Secara musikal, track akustik lebih detil, apalagi gitar. Kalau lagu up-tempo yang memakai gitar elektrik dengan distorsi banyak kan gampang saat di-edit. Akustik lebih susah karna mesti dapat soulnya," jelas Stevie yang kagum dengan permainan Jimi Hendrix ini.

Kelar masalah permainan yang mesti mendapat soul, proses penciptaan lagu ternyata cukup sulit juga. Andra cukup merasakan proses yang lama. "Saya baru bisa bikin lirik di Dewa pun pas album terakhir Dewa, track Selimut Hati. Sebelumnya susah. Biasanya bikin musiknya saja, sedang liriknya Dhani (Dewa). Yang bikin album ini lama selesai karna belum selesainya lirik-lirik lagu. Nggak pede. Tapi semuanya keluar mengalir dengan lancar. Untuk tema, ada beberapa curhatan orang yang dibikin jadi lagu. Lalu ada lirik yang nongol setelah nonton sebuah film," kata cowok berambut pendek ini.

Gebrakan mereka pertama digeber dalam single "Musnah". Ini single yang bercerita tentang putusnya cinta yang lalu berubah menjadi rasa benci. "Tapi kita tetap tekanin ke musiknya, musiknya yang awalnya datar, trus pas di-reff kencang dengan distorsi," kata Andra. "Musnah" sendiri menjadi track kunci yang menggambarkan karakter musik yang dianut Andra & The Backbone.

Untuk lagu favorit, "Musnah" menjadi pilihan Stevie. Selain single andalan tersebut, "Terdalam" adalah lagu up-tempo yang paling berkesan bagi cowok berambut lurus ini. "Karna paling susah mainin itu lagu!" kata cowok yang sudah belajar gitar sejak SD kelas satu. Sedang lagu yang paling enjoy dimainkannya adalah ‘Lagi dan Lagi’. Lain hal dengan Dedy, ia menyukai "Hanya Dirimu" yang up-tempo. "Lagu-lagu up-tempo dialbum ini sangat menantang. Disini gue mesti menjaga kualitas suara dan mesti jaga tempo sekaligus penjiwaannya," kata cowok yang belakangan ini mengurangi makanan yang berminyak, menghindari soda dan lebih sering minum air putih.

Kenapa harus band rock? Kenapa band ini dilahirkan? Hadirnya Andra & The Backbone jelas menambah warna dan meramaikan dunia musik negeri ini. "Band rock (keras) yang sekarang ini didengar banyak orang mungkin kurang, (musik) band-band yang ada sekarang lebih kearah mellow. Aku berusaha bikin rock yang nadanya pop banget, orang-orang bisa nyanyiin, meskipun musiknya kencang. Dan aku bikin banyak lagu yang nggak bisa dimasukkin ke Dewa, jadi daripada mubazir lebih baik dibawain di band ini," jelas Andra.

Keunikan grup ini secara keseluruhan tercermin dari title-nya "The Backbone". Well, ini memang proyek solo yang nggak mungkin bawa nama "Dewa". "Nama Backbone diambil karna aku ada masalah dengan tulang punggung. Aku sering diolok oleh personil Dewa yang lain, Awas, punggungnya. Awas, pengapuran. Jadi dipikir-pikir seru juga nih The Backbone dan artinya sendiri cukup bagus, orang nggak bisa tegak tanpa ada tulang belakang. Keren lah!" jelas Andra yang berharap musik Andra & The Backbone bisa diterima diberbagai macam segmen pasar.

Tuesday, December 05, 2006

My Chemical Romance (Black Parade, 2006)

Sebenarnya, merunut sejarah band bernama MY CHEMICAL ROMANCE [atau bisa juga disebut My Chem atau MCR] berarti kita bicara pengalaman pahit yang dilihat langsung oleh vokalisnya, Gerrard Way.
Gerrard adalah salah satu saksi hidup ketika teroris meruntuhkan World Trade Center, 11 September 2001 silam. Rasa marah, kesal, gelisah, sedih dan resahnya kemudian dituangkan dalam lagu berjudul Skylines and Turntiles.
Lagu itu juga menjadi semacam opening band yang akhirnya dibentuk oleh Gerrard Way bareng Matt ‘Otter’ Pellisier [drummer pertama yang sudah cabut].

Nama band sendiri diusulkan oleh basis Mike Way ketika membaca buku berjudul Ectassy: Three Tales of Chemical Romance, tulisan Irvine Welsh. Kini band yang diawaki juga oleh Bob Byar [drum], Frank Lero [rhythm gitar], Ray Toro [lead gitar] menjelma menjadi salah satu band papan atas di ranah rock. Mereka terbentuk September tahun 2001 di New Jersey.

MCR “nyaris” identik dengan musik yang berhubungan dengan kematian, horror dan kegelapan. Sebuah pilihan yang dari awal memang sudah mereka tonjolkan. Imej inilah yang MCR bentuk dari awal berdirinya, meski kemudian banyak kritikus musik ya menggolongkan mereka secara perlahan-lahan masuk dalam ranah emo. Tudingan sebagai “anak-anak emo” ini pernah secara kasar dilontarkan oleh band Inggris Kasabian yang menyebut MCR dengan “clowns” atau “emo kids”. Entah mengapa, Kasabian menyebut MCR sebagai satu band yang tidak punya sesuatu yang positif untuk dikatakan. Alamak, segitunya….

MCR juga pernah membatalkan beberapa konser lantaran ketika sedang menggarap video klip ‘Welcome to The Black Parade’ dan ‘Famous Last Words’ [bakal jadi single ke-2] yang digarap oleh Sam Bayer [pernah menggarap klip sukses Nirvana ‘Smells Like Teen Spirit’ dan American Idiot-nya Green Day]. Gara-garanya adalah Gerard Way cedera engkel sementara Bob Byar harus dirawat di rumah sakit karena infeksi. Untung saja dua kip yang sedang digarap sudah selesai.

MCR juga memilih menjadi band dengan basis massa ‘bawah tanah’ atau kelompok akar rumput [grassroots]. Mereka punya fans yang siap “mencaci-maki” habis-habisan dalam forum yang mereka bikin, termasuk di situs resmi mereka. Sisi positifnya adalah, MCR menolak segala atribut yang biasanya dilekatkan pada band, seperti ‘sex icon’ dan sebagainya. Fans membuat mereka menjadi “diri mereka sendiri”.

Album ketiga [yang major label] mereka The Black Parade menempatkan mereka pada tataran papan atas band pengusung alternative rock. Banyak kritikus yang menempatkan album ini sebagai ‘album paling ditunggu’ 2006. Single ‘Welcome to The Black Parade’ menjadi anthem yang wajib diputar [dan dinyanyikan]. Keberanian mempertahankan ciri “gelapnya” menjadikan My Chemical Romance sebagai ‘most wanted band’ terkini.

[joko.moer//rileks.com]

Tracklisting:
1. The End
2. Dead!
3. This Is How I Disappear
4. The Sharpest Lives
5. Welcome To The Black Parade
6. I Don't Love You
7. House Of Wolves
8. Cancer
9. Mama
10. Sleep
11. Teenagers
12. Disenchanted
13. Famous Last Words

Monday, November 27, 2006

Erwin Gutawa In Rockestra

Keinginan Erwin Gutawa untuk mendokumentasikan perjalanan musik rock (di) Indonesia) mulai dekade 70-an hingga sekarang ini patut diacung jempol. Dia memilih lagu-lagu yang pernah menjadi hits pada eranya dari beberapa grup rock yang pernah ada di negeri ini.

Sudah barang tentu, tidak semua lagu-lagu rock itu lantas dikemas dalam album bertajuk "Rockestra" ini. Jalan satu-satunya mungkin adalah dengan melakukan "random sampling". Terutama di era 70-an , memang sangat sulit untuk menemukan lagu-lagu yang murni berkarakter rock dari grup-grup rock yang jumlahnya lumayan bak jamur dimusim hujan. Sulitnya.....karena 80 persen grup-grup rock saat itu lebih cenderung tampil sebagai "copycat" atau "impersonator" dari grup-grup rock mancanegara. Kreativitas bikin lagu rock sendiri jadi terabaikan. Pun ketika grup-grup rock tersebut, semisal Freedom of Rhapsodia, AKA, SAS, Trenchem, Golden Wing, dan lain-lain,masuk ke bilik rekaman, mereka didikte oleh para cukong rekaman untuk menyelipkan lagu "jualan". Nah lagu "jualan" ini sudah pasti berkonotasi pada lagu pop "cengeng". AKA yang beringas di panggung terpakasa harus membuat lagu "Badai Bulan Desember", atau Freedom Of Rhapsodia (ini rock band-nya Deddy Dorres di Bandung) akhirnya melejitkan hit "Hilangnya Seorang Gadis" (karya Sarwono).

Disayangkan lagi di album "Rockestra" ini beberapa karya yang betul-betul rock milik SAS (katakanlah misalnya "Larantuka" atau "Sansekerta) tidak ikut dimasukkan dalam tracklist. Juga Giant Step, Golden Wing, Slank, Edane dan beberapa grup lain seperti Rasela, C'Blues. Padahal 2 grup rock 70-an itu punya hits nasional yaitu "Ikhlas" (C'Blues) atau "Kupergi Bersama Lagu" (Rasela). Bahkan "Ikuti"nya Edane tak terjamah sama sekali.
Mungkin ini adalah ekspektasi yang berlebihan, siapa tahu Erwin telah menyiapkan lagu-lagu rock Indonesia tersebut untuk proyek Rockestra yang selanjutnya.

Toh,arransemen yang dibuat Erwin Gutawa memang megah dan grand. Tapi belum menyentuh karakter rock yang sebetulnya. Simak lagu Harry Roesli "Malaria" yang sebetulnya merupakan metafora protes sosial ketika dibawakan Kikan Cokelat jadi seonggok lagu pop balada yang gak puguh. Sayang banget. Padahal dari departemen lirik saja, lagu yang dirilis Harry Roesli pada album "Philosophy Gang" itu sudah berkesan anti-established dan mbalelo. Simak saja petikan liriknya :

Lanjutkan saja hidup ini
Sebagai nyamuk malaria.......


Beberapa track yang agak lumayan adalah "Kemarau" (Oetje F Tekol) yang dipopulerkan New Rollies pada tahun 1979 terdengar lebih tebal dan ngerock oleh Armand Maulana. Juga duet yang unik antara Andy /rif dan Roy Jeconiah Boomerang pada lagu "Kehidupan" (Jockie Soerjoprajogo) yang dipopulerkan God Bless. Juga interpretasi yang pas oleh pendatang baru Ryo Damara pada lagu "Hilangnya Seorang Gadis". Atau Yopie Mata yang menyanyikan "Rock Bergema" (Roxx).

Catatan lain,penyanyi yang tampil kayaknya berkisar dari itu ke itu saja. Kurang variatif (mungkin karena izin dari pihak label diluar Sony BMG ?).
Namun toh dengan munculnya Achmad Albar dan Nicky Astria di album ini, membuat album "Rockestra" ini juga menyimpan nilai nostalgia.

Dan yang bikin gemes adalah "Overture" yang merupakan potporry sederet hits God Bless. Rasanya inilah track yang paling mewakili idiom "Rockestra" yang sesungguhnya. Dan London Symphony Orchestra melakukan tugasnya dengan baik.

TRACKLIST
1.OVERTURE (GODBLESS MEDLEY)
2.KEHIDUPAN
3.HILANGNYA SEORANG GADIS
4.ROCK BERGEMA
5.MALARIA
6.PERANG DENGAN HATI
7.JENUH
8.KASIH TAK SAMPAI
9.KUINGIN
10.SESAL
11.KEMARAU
12.JANGAN ADA ANGKARA
13.BENDERA


:: by: denny sakri ::