Friday, February 29, 2008

In Memoriam Gito Rollies (01.11.1947 - 28.02.2008)


Hari Kamis 28 Februari 2008, di RS Pondok Indah Jakarta telah meninggal dunia dengan tenang Haji Bangun Soegito Bin Tukiman a.k.a Gito Rollies
Semoga arwahnya diterima disisi Allah SWT

"Hari Hari" telah kita lalui baik yang penuh kicau "Burung Kecil" maupun yang penuh "Kemarau" hingga akhirnya kita pun hanya bisa mengucapkan "Salam Terakhir".

"hari-hari datang dan pergi / hari esok bukan hari ini / yang akan datang biarlah datang / nikmatilah hari ini / hari ini tak pernah akan kembali / dan nikmati hingga kemarin takkan kau sesali lagi"


Berikut Perjalanan Musik Gito Rollies yang dituliskan sahabatnya Denny Sakrie di harian Republika (17 Sept.2007):

MENELUSURI TAPAK MUSIK GITO ROLLIES

Perjalanan musik dan hidup Gito Rollies memang penuh warna. Berawal dari pentas pertunjukan musik rock yang hedonistik hingga ke dunia religius di jelang usia ke-60 pada 1 November nanti. Lelaki berparas keras dengan nama lengkap Bangun Soegito Toekiman ini dilahirkan di Biak, Irian Barat.
Meskipun sekarang Gito lebih menekuni kehidupan Islami sebagai seorang dai, namun, Gito yang pertamakali bergabung di kelompok Bandung The Rollies di akhir dasawarsa 60-an itu, masih belum meninggalkan dunia musik. Lelaki yang pernah mengenyam pendidikan Seni Rupa di Institut Teknologi Bandung (ITB), meski tak selesai ini, bahkan baru saja merilis album solo terbarunya bertajuk Kembali Pada-Nya di bawah label Sony BMG Indonesia.
Menariknya, di album yang beratmosfer religius ini, Gito menyanyikan ulang dua hit The Rollies yaitu Cinta yang Tulus (Kau yang Kusayangi), karya Ignatius Hadianto dan Hari Hari, karya Oetje F Tekol. Lirik kedua lagu ini memang sengaja diubah.

Lagu Cinta yang Tulus, yang dulu dinyanyikan almarhum Delly Rollies, bertutur tentang perasaan cinta seorang pria terhadap wanita pujaan, kini beralih makna menjadi cinta seorang makhluk Illahi terhadap Allah SWT. Lagu Hari Hari, yang dahulu liriknya mencerminkan sikap hedonistik materialistik berubah menjadi bagaimana seorang ummat memaknai perbuatannya sehari-hari untuk dipertanggung jawabkan kelak di akhirat.

Napas rock memang masih terasa di album terbaru Gito ini, meski tidak dalam bentuk yang ekstrim. Di sini ia berkolaborasi mulai dari Yockie Soerjoprajogo mantan personel God Bless hingga kelompok Gigi.

Asam garam
Gito memang telah banyak melahap asam garam dunia pentas pertunjukan dan rekaman. Sosoknya mulai dikenal khalayak ketika bergabung dengan The Rollies di tahun 1968. Dengan rambut bergaya afro-look, Gito memang terlihat bagaikan James Brown, superstar berkulit hitam yang kesohor dengan musik soul dan funk.

Gito pada akhirnya memilih mengikuti gaya dan teknik bernyanyi James Brown. Suaranya yang serak lalu menyanyikan lagu-lagu James Brown, seperti It's A Man's Man's Man's World, I Feel Good, dan Cold Sweat pada album perdana The Rollies yang direkam Phillips Productions Singapore.

Selain terampil bernyanyi, Gito pun memiliki aksi pentas yang memikat. Apalagi, ia ternyata menguasai permainan instrumen trompet, hingga biola. Tak pelak, namanya pun dielu-elukan penggemar fanatiknya. Sayangnya, tindak-tanduk Gito saat itu cenderung dalam konotasi buruk. Bersama rekan segrupnya, Deddy Stanzah, Gito mulai berkubang dengan minuman keras dan narkoba. Bahkan, baik Deddy Stanzah maupun Gito sempat didepak dari The Rollies, karena ketergantungan narkoba.

Saat itu, di sekitar tahun 1973, Gito Rollies sempat menjadi vokalis kelompok Cockpit di Jakarta. Tak lama berselang, karena berjanji akan berdisiplin dalam bermain musik, Gito pun kembali bergabung dengan The Rollies. Di sela-sela waktu luang, terkadang Gito ikut mendukung konser Superkid, kelompok trio yang dibentuk sahabat dekatnya, Deddy Stanzah bersama Deddy Dorres, dan Jelly Tobing. Di tahun 1976, ia malah resmi berduet dengan Deddy Stanzah dalam album berbahasa Inggris dengan tajuk Higher and Higher yang keseluruhan lagunya ditulis oleh Denny Sabri, wartawan majalah Aktuil.

Salah satu yang menarik di album ini terdapat lagu yang diciptakan khusus oleh Denny Sabri setelah terinspirasi mengamati gerakan gerakan tubuh Gito bila sedang manggung, berjudul Do The Gito Dance. Lagu ini pun dikemas dalam aransemen musik soul dan funk, seperti penyanyi yang ditiru Gito: James Brown.

Penyanyi solo
Pada paruh dasawarsa 80-an, Gito Rollies mulai menjajaki karier musik sebagai penyanyi solo dengan merilis album Tuan Musik. Di album ini Gito didukung oleh sahabat-sahabatnya dari The Rollies, seperti Oetje F Tekol dan Jimmie Manoppo.

Ternyata, karier solo Gito Rollies bisa dianggap berhasil. Dan, pihak Sokha Records tetap merilis album-album solonya, termasuk berduet dengan Farid Hardja maupun dengan Deddy Stanzah. Harpa Record dan Atlantic Record bahkan menggandeng Gito berduet dengan vokalis God Bless, Achmad Albar lewat lagu-lagu, seperti Kartika dan Donna Donna yang menjadi hit di dasawarsa 90-an.

Pada album Goyah dan Nona, penampilan Gito Rollies didukung sederet pemusik dan komposer mumpuni, seperti Ian Antono, Dodo Zakaria, Billy J Budihardjo, Jimmie Manoppo, dan banyak lagi.

Layar lebar
Selain menuai sukses cemerlang di ranah musik, Gito pun ternyata memiliki bakat dalam seni peran. Di tahun 1978, ia tampil dalam film layar lebar bertajuk Perempuan tanpa Dosa bersama aktris laris saat itu, Yenny Rachman. Karakter yang dimainkan Gito cenderung pada sosok antagonis. Misalnya di film ini, ia berperan sebagai Freddie, seorang penjahat yang berobsesi hingga memasuki dunia rekaman. Tapi dalam film Kereta Api Terakhir, Gito malah berperan sebagai prajurit Tigor.
Di dasawarsa 2000, sosok Gito masih berkibar di layar lebar. Misalnya, ia berperan sebagai penjual buku bekas yang bijaksana dalam film Ada Apa dengan Cinta yang disutradarai Rudy Sujarwo. Atau berlaku sebagai Pak Ucok, yang bekerja sebagai pemutar film di bioskop sinepleks dalam film Janji Joni yang dibesut Joko Anwar. Di film ini pula, Gito berhasil meraih Citra sebagai Pemeran Pembantu Terbaik pada Festival Film Indonesia 2005.
Gito Rollies tetap berkutat di dunia seni, walau dalam dimensi yang berbeda. Lelaki ini masih tetap berada di kerumunan khalayak. Jika dari era 70-an hingga 90-an Gito Rollies dikerubuti penonton dan penggemarnya, kini Gito dikelilingi oleh para jamaahnya.

DISKOGRAFI

Bersama The Rollies

1.The Rollies - The Rollies (Phillips,1968)
2.Halo Bandung - The Rollies (Philips,1969)
3.Let's Start Again - The Rollies (Remaco,1971)
4.Bad News - The Rollies (Remaco,1972)
5.Sign of Love - The Rollies (Purnama Record,1973)
6.Live in TIM - The Rollies (Hidajat & Co 1976)
7.Tiada Kusangka - The Rollies (Hidajat & Co,1976)
8.Keadilan - New Rollies (Musica Studios,1977)
9.Dansa Yok Dansa - New Rollies (Musica Studios,1977)
10.Bimbi (Vol 3) - New Rollies (Musica Studios,1978)
11.Kemarau - New Rollies (Musica Studios,1978)
12.Kerinduan - New Rollies (Musica Studios,1979)
13.Pertanda - New Rollies (Musica Studios,1979)
14.Rollies '83 (Mabuk Cinta) - Rollies (Sokha,1983)
15.Rollies (Astuti) - Rollies (Sokha,1984)
16.Rollies'86 (Problema) - Rollies (Sokha,1986)
17.Iya Kan? - Rollies (Sokha,1990)
18.New Rollies '97 - New Rollies (Musica Studio,1997)

ALBUM SOLO

1.Tuan Musik (Sokha Records 1986)
2.Permata Hitam/Sesuap Nasi (Sokha Records 1987)
3.Aku Tetap Aku (Sokha Records 1987)
4.Air Api (Sokha Records 1987)
5.Tragedi Buah Apel (Sokha Records 1987)
6.Goyah (Sokha Records 1987)
7.Nona/Esmiran (Sokha Records 1989)
8.Hari Dansa (Bursa Musik 1990)
9.Kembali Pada-Nya (Sony BMG Indonesia 2007)

ALBUM DUET

1.Higher and Higher - Bersama Deddy Stanzah (SM Recording 1976)
2.Koq (Lepas Sensor) - Bersama Deddy Stanzah (Sokha/DS Records 1988)
3.Sop Dihidangkan - Bersama Farid Hardja (Sokha Records 1988)
4.Donna Donna - Bersama Achmad Albar (Bursa Musik,1990)
5.Kartika - Bersama Achmad Albar (Harpa/AR 1990)

ALBUM TRIO

Jangan Cemberut - AGE (Achmad Albar,Gito Rollies,Eet Syahrani) (AR 1991)

ALBUM SOUNDTRACK

Valentine (Blackboard 1990)

BINTANG TAMU/KOMPILASI

1.Festival Lagu Populer Indonesia 1980 (Pramaqua 1980)
2.Festival Lagu Populer Indonesia 1986 (Billboard 1986)
3.Heavy Slow Rock (Atlantic Records/Sokha 1988)
4.Bintang Rock Indonesia (Atlantic Record 1989)
5.Kharisma Indonesia 2 (Atlantic Record 1989)
6.Tembang Peduli (Ceepee Records 1998)
7.Pop Muslim (Blackboard 2000)
8.Kita untuk Mereka (Sony BMG Indonesia 2005)
9.Istighfar - Opick (Forte 2005)

FILMOGRAFI

1.Buah Bibir (PT Sarinande Films 1973),Cameo
2.Perempuan tanpa Dosa (PT Isae Film 1978) Aktor
3.Di Ujung Malam (PT Garuda Film 1979) Aktor
4.Sepasang Merpati (PT Gramedia Film 1979) Aktor
5.Permainan Bulan Desember (PT Matari Film 1980) Aktor
6.Kereta Api Terakhir (PPFN 1981) Aktor
7.Halimun (Remaja Ellynda Film 1982) Aktor
8.Puteri Duyung (PT Budianta Film 1985) Aktor
9.Ada Apa dengan Cinta (Miles Production 2001) Aktor
10.Gerbang 13 (Revol Film 2004) Aktor
11.Janji Joni (Kalyana Shira Films,2005) Aktor

2 comments:

Gatot said...

Terima kasih banyak atas pencerahannya. Menarik menelusuri perjalanan musik Gito ini.

Salam,
Gatot

Gatot said...

Terima kasih banyak atas pencerahannya. Menarik menelusuri perjalanan musik Gito ini.

Salam,
Gatot